Advokasi Bukan Tentang Kekuasaan

Oleh : Nezar Silabuhan (Wakil Ketua Bid Media dan Propaganda DPD Repdem Sumatera Utara)

Ditahun 2000an awal gerakan Reformasi du Negeri ini di masih sangat hangat, gegap gempita teriakan anti Rezim  Suharto menggelora di seluruh Negeri, hampir semua  Aktifis mahasiswa waktu itu berjibaku dan bahkan  baku hantam dengan penguasa  atas nama idelisme.

Semua organisasi baik intra kampus maupun ektra kampus menawarkan konsep gerakan perlawanan di Negeri ini, hampir tidak ada Mahasiswa yang buta politik waktu itu, meski sampai saat ini praktis tidak ada kekuasaan yang bisa di ambil oleh semua organisasi mahasiswa waktu itu bahkan mirisnya mencabut UU NKK/BKK juga tidak berhasil tapi semangat tersebut masih ada hingga kini.

Imbas dari maraknya gerakan Mahasiswa tak pelak menimbulkan Pertarungan ideologi di kalangan Mahasiswa dan Pemuda mulai dari ideologi Sosialis kiri, kanan dan hingga jalan ketiga dengan menyandarkan pada basis materi masing-masing Organisasi, semua  masuk ke Area Organisasi Mahasiswa dengan methode yang berbeda dan tidak jarang perdebatan ideologi membuat gerakan Mahasiswa menjadi terpolarisasi dengan pendikotomian basis Filsafat.

Namun ada yang aneh saat polarisasi ideologi gerakan di sebuah ruang sudut gedung H Kampus Universitas Dr. Soetomo tepatnya Sekretariat BEM Fakultas Hukum Unitomo lahir sebuah organisasi yang di insiasi oleh pengurus BEH FH dengan semangat Tridarma Perguruan Tinggi (Bukan atas dasar ideologi kiri atau kanan) lahirlah wadah gerakan  progesif Revolusioner dengan membawa nilai Tri Dharma Perguruan Tinggi serta Tradisi Hukum.

Dibidani murni oleh aktifis yang tergabung dalam kepengurusan BEM Fakultas Hukum Unitomo diantaranya Nurmaya Susanti, Rinto M Siagian, Woko, Ferry Kurniawan, Hari Kurnia, Kholili, Ali Subchan dll, dengan dengan latar belakang ideologi yang berbeda maka Forum Advokasi Mahasiswa  Fakultas Hukum Universitas Dr Soetomo (FAM FH Unitomo) lahir pada Tanggal 21 Februari 2001. sekaligius menandai kiprah gerakan Advokasi Mahasiswa dalam agenda-agenda Reformasi, meski sebagai perpanjangan tangan BEM FH Unitomo dalam menanggapi berbagai isu baik di tingkatan Nasional maupun lokal Surabaya.

Dua Tahun kemudian dalam Kongres FAM FH Unitomo Ke-II diputuskan untuk memperluas gerakan dan Kongres Ke-II FAM FH Unitomo mengambil keputusan strategis dengan memperluas wilayah gerakan dari Fakultas menjadi UKM Universitas, maka kongres Ke II FAM FH Unitomo berhasil  merubah Nama sekaligus AD/ART  Organisasi, maka FAM FH berubah nama menjadi UKM FAM Universitas Dr. Soetomo yang lebih lazim di sebut hingga kini sebagai Forum Advokasi Mahasiswa Universitas Dr. Soetomo ( FAM UNITOMO).

Disini menarikanya, pada era 2000 awal, nama sebuah organisasi gerakan belum ada yang langsung menyebut organisasi Advokasi melainkan lazimnya saat itu memakai nama Gerakan, Front atau lainnya, bahkan saya sering kali Aktifis FAM di tanya koq Forum bukan front, koq advokasi bukan gerakan, lambangnya koq timbangan bukan tangan mengepal atau bintang kenapa jadi UKM dan lain lain dan lain lain,

 Semua pertanyaan tidak mungkin dijawab kecuali dan lain lainnya yang cuma anak-anak FAM yang tahu, intinya waktu itu FAM harus bebenah secapat mungkin memenuhi syarat untuk menjadi UKM, cuma modal beberapa orang pengurus baru, Dedi W Nasution, Izar, Ema aprilia, Bustomi, Ferry, Fatrick puung, Rinto, Ali,  Kholili dll, pada akhirnya harus berkurang lagi karena beberpa personil FAM aktif di BEM dan DLM

FAM Unitomo haris memenuhi quota keanggotaan Minimal 4 Fakultas untuk menjadi UKM, maka muncullah nama-nama pengurus yang berasal dari non Fakultas Hukum diantaranya Ainun (FIA), Fudaili (FKIP), Misbah (FKIP), Ari Widhi (Fikom), Erlinda (Sastra), Junaidi (Fikom) Andre Yuris (Fikom), Abner (Fikom), Joshua (Fikom), Gusti Muat Bajo Teknik, dll

 Dengan berjibaku dengan sumber daya yang minim dan Akhirnya atas Restu PR III Bapak Ulul Albab setelah lolos dalam ferifikasi maka Resmilah FAM UNITOMO menajadi salah satu UKM Universitas Dr. Sutomo dan menjadi satu-satu nya Organ Gerakan Mahasiswa yang menjadi UKM hingga saat ini dan merupakan Organ Advokasi aktif hingga saat ini.

harus di akui sebelum organisasi gerakan membicarakan Advokasi dalam progam kerjanya FAM Unitomo dimasa awal sudah terlebih dahulu membuat Progam Advokasi langsung terhadap kasus-kasus rakyat seperti Advokasi Pabrik Tiner di Kali Waron, Advokasi Petani Garam di Gresik dan Madura, Advokasi Pabrik Sepatu di Sidoarjo, Advokasi di Penduduk Sekitar Rel Kereta Api Di Wonokromo dll,

pada akhirnya Advokasi yang menjadi dasar gerakan FAM Unitomo menjadikan FAM Unitomo tetap eksis meski jatuh bangun kata kuncinya adalah FAM Unitomo tidak memiliki ideologi politik apapun kecuali Nilai Tri Dharma Perguruan Tinggi dan menjunjung culture of law, Perjuangan FAM Unitomo tidak kenal pemanfaatan dalam ranah politik dan kekuasaan, meski beberpaa Alumni terlibat dalam politik praktis tapi FAM Unitomo tetap steril hingga kini dengan tetap mebangun motto "Jangan larut dalam sejarah tapi bikinlah sejarah"

* Penulis Adalah Mantan Ketua FAM Unitomo Surabaya Periode 2004-2005

Tinggalkan Komentar