Dialektika Organisasi Mahasiswa Daerah dalam Investasi Sejarah

Oleh : Ridho Muhklisin

Dewasa ini keberadaan Organisasi  yang bersifat kedaerahan banyak berdiri di Kota  sebagai basis perguruan tingggi, baik yang berbasis gerakan maupun yang berbasis budaya akan tetapi seberapa besar manfaat yang di hasilkan oleh Masyarakat daerah terhadap organisasi yang membawa embel-embel nama daerah tersebut, saya fikir patut di cermati sebagai momen refleksi Hari Pahlawan 10 November.

Organisasi mahasiswa daerah sudah selayaknya dapat memfasilitasi kepentingan mahasiswa, pemuda dan rakyat baik di kampong halaman atau yang merantau dan berada diluar daerah, akan tetapi faktanya  ada beberapa organisasi mahasiswa daerah yang malah terjebak pada eksklusiifitas gerak dan lalai akan fungsi dan tujuannya, sehingga banyak Rakyat dan mahasiswa yang mereka wakili merasa sangat kecewa terhadap organisasi mahasiswa tersebut.

Kondisi objektif di  lapangan kita melihat Organisasi Mahasiswa Daearah saat ini hanya bergerak di menara Gading tidak mau  terlibat dalam urusan yang menurut mereka bukan urusan Mahasiswa dan cenderung membuat garis pemisah antara mahasiswa dan rakyat biasa, hasilnnya Organisasi Mahasiswa daerah hanya terjebak dalam kegiatan ceremonial belaka dan tidak konkrit dalam ikut memberi warna bagi kemajuan daerahnya masing-masing.

Organisasi mahasiwa daerah dulu selalu identik sebagai lawan  sepadan bagi pemerintahan daerah yang tidak pro rakyat dan bersinergi dengan kekuatan lain demi kemajuan daerahnya, tapi apa yang kita lihat malah sebaliknya, sangat disayangkan banyak organisasi mahasiswa daerah yang lalai mengamati situasi Daerahnya,  sehingga masih banyak ketimpangan ketimpangan sosial yang terjadi didaerahnya luput dari pengamatan Mahasiswa, dan kondisi ini kembali menegaskan Mahasiswa semakin jauh dari identitas “agend of change” (Agent perubahan), dan sebagai  “social control” (kontrol sosial) dan berada dalam situasi “diam dalam buta” seolah olah daerahnya baik baik saja.

Menurut saya ada beberapa Faktor yang menjadi penyebab kenapa situasi tersebut terjadi, pertama, Budaya hedonisme di kalangan aktivis Organisasi Mahasiswa Daerah yang semakin tinggi, membuat gerak Aktivis mahasiswa daerah tidak mengarah pada rasa kebersamaan antara masyarakat dan Mahasiswa, Mahasiswa Asik dengan Dunianya sendiri dan memisahkan diri dari kepentinngan Masyarakat, itu sebabnya Aktifis Mahasiswa Daerah lebih sering terlihat nongkrong di hotel-hotel atau asik memainkan Gadgetnya ber Games ria ketimbang bersama Masyarakat Daerahnya yang berprofesi sebagai Kuli Banngunan atau Tukang Becak.

kedua berpuas diri terhadap status Mahasiswa seolah dengan telah menjadi Mahasiswa mereka tidak perlu membaca Buku dan cukup belajar diRuang kelas, sehingga kwalitas intelektual Aktifis Mahasiswa daerah menurun, dan hanya mampu melakukan kegiatan yang bersifat Ivent Organizer bukan kegiiatan idelogis yang bermuara pada perubahan sosial masyarakat di daerahnya.

ketiga Minimnya kemandirian Aktifis Mahasiswa dalam melakukan gerak dan cenderung mengikuti selera Senior yang berlatar belakang isu pesanan, menjadi masalah tersendiri, karena gerakan hanya membawa isu kaum elit yang jauh dari kebutuhan Masyarakat daerah dan cenderung kontra produktif dengan sejarah sudah seharusnya sistem gerakan berubah mengikuti jaman 4,0, tidak terpatok pada strategi gerakan seperti periode Malari  atau 98 yang tidak sesuai dengan pola gerak sekarang, apalagi sekarang memasuki era” post truth”, yang tentu gerakan harus bermetamorfosa dengan sistem baru agar eksistensi gerak tetap  terjaga.

keempat dan paling fundamental adalah minimmnya minat baca buku di kalanngan Akktifis Mahasiswa Daerah membuat Mahasiswa hannya menjadi  aktifis kupingan dan tidak  memiliki daya nalar luas dalam menelit sebuah persoalan, di era ini Mahasiswa hanya mengandalkan artikel singkat yang  disediakan oleh Google yang tentu memuat bacaan yang tidak konferheship dan cenderung parsial sehinngga Aktifis Mahasiswa cenderung berfikir dan bernalar Instans dan tidak memiliki dasar pemahaman yang mendalam.

terakhir saya menyarankan agar Aktifis gerakan Mahasiswa Daerah kembali pada ruhnya membangun Jiwa Kepahlawan untuk investasi Sejarah, berkaca pada Kumpulan Jong Sumatera dan Jong Batak yang mampu membangun persatuan Indonesia 1928, kenapa kita sekarang malah mundur kebelangkang enggan menyatukan isu mahasiswa dan isu Rakyat, kembailah ke khitah bangunan gerakan Mahasiswa yang menguatkan kepal tangan mendobrak Sistem menindas, dan melantangkan suara menolak ketidak Adilan bukan melentikkan jari menulis proposal dan merapikan pakaian agar terlihat layak masuk ke kantor pejabat korup dan nongkrong di café-café mahal.

 

*Penulis adalah Pengurus Repdem Komisariat Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU)

 

Tinggalkan Komentar

loading...