Hikayat Perang Sabil dam Semangat Api Perlawanan Perempuan Aceh

 Oleh : Nezar SIlbuhan*

Salam alaikom walaikom teungku meutuah

Katrok neulangkah neulangkah neuwo bak kamoe

Amanah nabi...ya nabi hana meu ubah-meu ubah

Syuruga indah...ya Allah pahala prang sabi....

Ureueng syahid la syahid bek ta khun matee

Beuthat beutan lee...ya Allah nyawoung lam badan

Ban saree keunueng la keunueng senjata kafee la kafee

Keunan datang...ya Allah pemuda seudang...

Djimat kipah la kipah saboh bak jaroe

Jipreh judo woe ya Allah dalam prang sabi

Gugor disinan-disinan neuba u dalam-u dalam

Neupuduk sajan ya Allah ateuh kurusi...

Ija puteh la puteh geusampoh darah

Ija mirah...ya Allah geusampoh gaki

 Syair di atas adalah penggalan “Hikayat Perang Sabil” yang meleganda hingga ke luar Aceh hingga Zentgraf dalam bukunya “Aceh” (1983) menulis banyak pemuda yang memantapkan langkahnya ke medan perang Aceh melawan Belanda karena pengaruh buku hikayat perang sabil yang sengaja ditulis seorang ulama besar Aceh bernama Tgk. Muhammad Pante Kulu. Dan pada kesempatan ini saya tidak akan membahas Hikayat perang sabil dari sisi bahasa dan syair atau mendarasnya akan tetapi saya akann membahas bagaimana perempuan Aceh mampu mengimplementasikan syair-syair tersebut mennjadi api semangat dalam mengobarkan perjuangan.

Tentang jiwa kepahlawan Aceh sudah tidak bisa kita ragukan lagi baik tentang semangatnya yang mampu kontinyu melakukan perlawanan terhadap Agresi bangsa Asing yang ingin menjajah bangsa Aceh di masa pendudukan Kolonialisme belanda, Aceh begitu memiliki potensi yang besar dalam memperjuangkan Haknya dari generaske generasi energinya tetap sama yaitu tak mau tunduk apalagi di jajah dan aceh menyimpan nama besar yang abadi sebagai pengibar bendera anti penjajahan baik laki sebut saja T. Umar, Panglima Polim, Chik Ditiro, Cut Ali merupakan sosok yang tak asing lagi dan Aceh memiliki perempuan perkasa di barisan komando para pejuang dan aktif sebagai prajurit sebut saja Pocut meuligo, Cut Nyak Dien, Cut Meutia, Malahayati yang merupakan perempuan yang aktif di militer.

Yang ingin saya bahas bukan nama-nama besar mereka tapi kali ini saya tertarik bagaimana perempuan Aceh mampu mengobarkan semangat perjuangan dalam kurun waktu yang lama tanpa putus apalagi Padam, ya perempuan kata Kuncinya dalam perjuangan Masyarakat Aceh, mereka yang selalu mendengungkan nilai-nilai perjuangan Masyarakat Aceh, perempuan sangat tahu betul fungsinya sebagai pilar keluarga dalam mendidik generasi pejuang dari masa ke masa dan fungsi itu betul-betul terealisasi dengan baik dalam kehidupan sehari-hari.

 Sudah lazim dalam masyarakat Aceh setiap mengayun anaknya sang bunda biasa bernyanyi sebagai pengantar tidur anaknya nyanyian yang sering di nyanyikan oleh perempun Aceh adalah nyanyian shalwat (Berupa Syair-syair pujian terhadap Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW), dan yang tak kalah penting adalah membaaca Syair “Hikayat Perang sabi” yang di ciptakan oleh chik Pante Kulu. Sebuah Syair yang melegenda sebagai penyemangat laskar aceh baik yang berada di garis depan maupun yang belum mendapat kesempatan di garis depan bahkan pada mereka yang masih di ayunan juga diperdengarkan hikayat perang sabil.

 saya tidak bisa membayangkan tanpa peran perempuan-perempuan Aceh hikayat perang sabil tidak akan mengalir dalam darah putera-putera Aceh dan menjadi amunisi, menurut Taufik Ismail bagi orang Aceh  syair Hikayat Perang Sabil menjelma menjadi jutaan rencong dan tidak bisa di pungkiri bahwa peran perempuan-perempuan Aceh tidaklah sedikit dan kesadaran akan mengalirkan semangat dalam dada anak Aceh tidak pernah padam dan selalu bangga memiliki perempuan-perempuan yang memiliki kesadaran penuh mentranformasikan nilai-nilai perjuangkan.

 Dengan latar belakkang dan reputasi yang berbeda dari perempuan-perempuan lain, perempuan Aceh telah membuktikan dirinya mampu mendedikasikan idealismenya untuk melaksanakan fungsinya sebagai ideolog bagi anak-anak Aceh. Dan hasilnya belanda merasakan secara langsung kerugian baik nyawa maupun benda dan sanggat kehabisan energi untuk menundukkan Aceh, aceh dengan perempuan perkasanya yang tak pernah habis mampu memberikan bukti bahwa perempuan juga mampu ikut andil dalam perjuangan.

Tidak itu saja Aceh dengan kearifan lokalnya ternyata Aceh memiliki raja Perempuan (Sultanat) yang mungkin langka di kerajaan-kerajaan nusantara lain teracatat,  Sri Ratu Safiatuddin Tajul Alam (1641-1675), Sri Ratu Naqiatuddin Nurul Alam (1675-1678), Sri Ratu Zaqiatuddin Inayat Syah (1678-1688), Sri Ratu Zainatuddin Kamalat Syah (688-1699) hal ini membuktikan bahwa Aceh memiliki pemahaman yang berbeda dalam memandang perempuan dan tentu dapat di jadikan rujukan bagi pejuanng kesetaraan gender dewasa ini.

Saat ini memang perempuan dengan segala kelebihan selalu di pandang sebelah mata akan tetapi sesungguhnya sejarah telah mengukir manis tentang peran perempuan dalam memerdekakan Negeri ini perempuan yang selalu di pandang cengeng lemah ternyata memiliki kemamppuan dalam mengorganisir dan menyatukan segala potensi yang ada untuk berjuang dan untuk masa kedepan akankah kita masih memandang lemah kaum perempuan tentu tidak dan perempuan juga harus membuktikan dirinya jika mereka mampu menjadi Cut Nyak Dien dan Malahayati di masa-masa yang akan datang.

 *penulis adalah budayawan Aceh Singkil

Tinggalkan Komentar

loading...