Jangan Panggil Aku Jawa Tapi panggil aku Jadel

Oleh: Nezar Silabuhan

“Okeh Kali Bah!”. Ini sebuah ungkapan membingungkan yang sering kali diucapkan oleh masyarakat Jawa yang ada di Sumatera Utara. Mendengar ucapan itu akupun senyum-senyum. Soalnya aku sangat tahu tak ada orang Jawa yang hidup di Jawa sana menggunakan kalimat ini. Paling mereka memakai kata “Akeh Banget” atau “Akeh tenan”. Tapi begitulah kenyataannya, bahasa orang Jawa di Sumatera Utara telah berasimilasi dengan bahasa lokal yang pada akhirnya membentuk entitas dan komunitas Jawa Baru diluar pulau Jawa. Pada akhirnya terjadi perubahan tata budaya dari Jawa Asli ke Jawa Khas Sumatera.

Kedatangan Masyarakat Jawa ke Pulau Sumatera terjadi dalam beberapa periode. Dimulai pada masa Kolonial Belanda yang datang dengan 2 cara; Pertama : mengikuti progam Transmigrasi atas kebijakan Politik Etis akibat dari revolusi Parlemen Belanda yang melahirkan 3 kebijakan pada tanah Koloni yaitu: Edukasi, Transmigrasi dan Irigasi. Sedangkan cara yang kedua dengan menjadi buruh kontrak pada perkebunan-perkebunan milik Kolonial (seperti Tembakau Deli Matschapy, Socfindo, Lonsum dll). Selain itu ada pula penduduk yang pindah dengan mandiri dengan biaya sendiri pula. Khusus untuk buruh kontrak, selain bekerja di perkebunan milik kolonial mereka juga membuka lahan-lahan hutan untuk dijadikan kawasan pemukiman. Pada saat kontrak mereka habis, mereka bukannya kembali ke Jawa - malah menetap hingga menjadi bagian dari masyarakat Sumatera. Hasilnya bisa kita lihat sekarang; hampir di semua lini kehidupan dan profesi kita selalu melihat ada Putera Jawa yang terlibat didalamnya.

Jadel (baca: Jawa Deli) begitulah mereka menyebut dirinya; bukan lagi Jawa Tengah, Jawa Timur, Sunda, atau Madura sebab mereka telah membentuk komunitasnya yang baru dan memberikan nama yang lain yaitu Jadel. Jadel muncul bersamaan dengan istilah lain seperti Pujakesuma (Putra Jawa Kelahiran Sumatera) atau Jawa Sumatera. Entah siapa yang pertama kali mencetuskan, nama-nama ini muncul pada saat masyarakat Jawa tidak lagi mengetahui asal muasal keluarga atau silsilah keluarganya karena mereka jarang atau bahkan tidak pernah kembali lagi ke Jawa. Maka akhirnya mereka kehilangan kampung halamannya di Jawa dan akhirnya membuat kampung halaman baru di tanah Deli. Maka lekatlah label Jadel kepada orang Jawa yang berkampung halaman di Tanah Deli.

Itulah sebabnya sering kali kita menemui cerita lucu, umpamanya ketika kita bertemu seseorang di bus dan kita bertanya kepadanya hendak kemana dalam bahasa Jawa, maka dia menjawab: “Bali kampung, nang Dolok Martimbang”. Sekilas jawaban itu tampak tidak aneh. Tapi jika yang mengucapkan kalimat itu adalah orang Jawa kental, akan tertangkap juga ‘lucu’-nya. Sebab, sejak kapan Dolok Martimbang jadi kampungnya orang Jawa. Bukankah Dolok Martimbang itu nama kampung orang Batak? Itulah keunikan Jadel yang kampungnya di Sumatera (Utara). Maka tidak heran jika kampung yang begitu kental ke-Melayuannya atau jelas-jelas ke-Batakannya, ternyata merupakan kampungnya orang Jawa juga.

Dalam kesehariannya sebenarnya bukan masyarakat Jawa saja yang terpengaruh oleh budaya lokal seperti bahasa yang tercampur dan klaim kampung halaman, akan tetapi masyarakat Jawa dengan komunitasnya yang besar juga mempengaruhi budaya lokal. Maka kita tidak heran jika di Siantar ada daerah yang bernama Tanah Jawa, bahkan nama-nama daerah yang berasal dari bahasa Jawa seperti Sari Rejo, Harjo Sari, Sido Dadi, Jalan Karyo dll bisa kita temui di berbagai tempat. Bayangkan saat mereka berada di Jakarta dan ditanya di kelurahan apa dia bertempat tinggal, lantas dia menjawab: “Kelurahan Sitirejo”, barang kali orang akan menyangka bahwa Medan itu berada di Jawa Tengah atau Jawa Timur.

Dari sisi budaya, sudah lazim terjadi akulturasi yang harmonis dengan suku-suku setempat. Tidak asing terdengar istilah Karoja, yaitu lagu (dengan instrumen musik) Karo dengan lirik berbahasa Jawa atau sebaliknya, ada juga istilah Manja atau Jaman (Mandailing-Jawa; Jawa Mandailing) yaitu lagu (dengan instrumen gondang) Mandailing dengan lirik berbahasa Jawa begitu juga sebaliknya; atau memasukkan Qasidah Barzanji dengan lantunan Marhaban yang merupakan tradisi Melayu ke dalam prosesi nujuh bulan, turun tanah dan upacara perkawinan dengan tradisi Jawa – yang tidak dilakukan oleh orang Jawa sono. Hal itu terjadi karena di Sumatera Utara masyarakat lokal sangat ramah terhadap budaya luar dan hampir tidak pernah terjadi gesekan.

Mengenai sikap Orang Jawa yang adaptif dengan budaya orang sekampungnya yang berlainan etnis juga dapat kita lihat dalam upaya mereka menggunakan bahasa lokal sebagai alat komunikasi. Mereka tetap pede mengucapkan “madabu marsamburetan” , “bosagh botul, jang” yang diucapkan dengan pelafalan khas Jawa dengan eksplotion pada pelafalan huruf “d” dan “b” dalam berkomunikasi dengan warga lokal.

Begitu juga dalam seni pertunjukan. Jangan heran jika dalam pertunjukan kuda kepang (kuda lumping atau jaranan) ada pemain bermarga Ginting, Saragih dan lainnya; begitu pula orang jawa banyak yang fasih menyanyikan lagu Batak, Karo dan berpantun Melayu. Bahkan di kawasan Kelurahan Binjai Kecamatan Medan Denai, seorang pelatih tari Melayu Deli Serampang 12 adalah seorang Jadel yang bernama Boiman (alm). Belum lagi pembaca Qasidah Barzanji yang tidak lagi merupakan monopoli orang Melayu Asahan, Batubara, Bedagei, Percut, Bagan, Hamparan Perak dll; karena banyak laki-laki maupun perempuan Jadel yang piawai berqasidah.

Kesenian Jawa telah menjadi bagian budaya Sumatera melengkapi kekayaan budaya lokal, dan mampu menarik minat warga lokal untuk ikut andil dalam memainkannya, sedang orang Jadel sendiri telah pula merasa memiliki budaya lokal. Itulah makanya di rumah-rumah Jadel lebih banyak koleksi lagu Batak, Melayu dan Karo ketimbang koleksi lagu Jawa.

Aku masih ingat ketika pertama kali ke kampung Kakek di Daerah Trenggalek Jawa Tiimur. Setiap aku bicara, ada saja orang yang mentertawai. Mereka bilang bahasa jawaku lucu dan aneh. Akhirnya aku sadar bahwa di Jawa mereka tidak menggunakan kata “kali” untuk mengatkan sangat - tapi menggunakan “Banget”, tidak menyebut serupo untuk mengatakan serupa- tetapi podho; dan masih banyak lagi; belum lagi cengkoknya yang berubah. Pada akhirnya aku hanya bisa berkata: Aku bukan Jawa, tapi Jadel. (*)

 

*penulis adalah budayawan Aceh Singkil

 

Tinggalkan Komentar

loading...