Lawan Covid-19, Cegah Psikosomatik, Sebarkan Berita Baik

Oleh : Ari Widhi Astuti

Membanjirnya informasi mengenai Covid-19 yang diterima masyarakat, ternyata memiliki dampak terhadap kesehatan dan imun tubuh. Terlebih lagi, kektika tidak semua informasi yang beredar di masyarakat sesuai dengan fakta atau hoax. 

Melansir dari health.grid.id,  menurut Vasilis K. Pozios, MD, seorang psikiater forensik, mengatakan bahwa hoax dapat menimbulkan perasaan marah bahkan depresi.

"Karena 'hoax,' atau berita palsu dimaksudkan untuk memanipulasi opini publik, itu dirancang untuk memancing respons emosional dari pembaca atau pemirsa. Sehingga dapat menimbulkan perasaan marah, curiga, cemas, dan bahkan depresi dengan mendistorsi pemikiran kita. Sama halnya dengan American Psychiatric Association pada Mei 2018 yang melaporkan bahwa orang Amerika di semua kelompok demografis mengalami peningkatan tajam dalam tingkat kecemasan dalam setahun terakhir,” tutur Vasilis K. Pozios, MD, dikutip dari Psycom.net.

Informasi semisal kurangnya APD bagi petugas medis, petugas medis yang kelelahan hingga jatuh sakit, langkanya masker dan hand sanitizer, bertambahnya jumlah penderita yang dinyatakan positif Covid-9, jumlah pasien yang meninggal, dan sejenisnya, bisa saja membuat pembacanya tiba-tiba merasa tidak enak badan.

Jika seseorang pernah mengalami tenggorokan agak gatal, nyeri, dan sedikit meriang walaupun suhu tubuh normal, setelah membaca informasi semacam tersebut diatas, maka bisa jadi ia terkena gejala psikosomatik.

Psikosomatik adalah gangguan fisik yang disebabkan oleh tekanan-tekanan emosional dan psikologis atau gangguan fisik yang terjadi sebagai akibat dari kegiatan psikologis yang berlebihan dalam mereaksi gejala emosi. Psikosomatik berasal dari dua kata yaitu psiko yang artinya psikis, dan somatik yang artinya tubuh.

Gejala Psikosomatik dapat muncul akibat kita merasa terlalu cemas ketika membaca berita yang masif beredar di sekeliling kita. Sehingga tubuh merespon akibat adanya tekanan yang berlebihan.

"Biasanya orang akan mengalami gejala psikosomatik ketika badannya telah mengalami kelebihan beban. Jadi kalau sudah stres berlebihan akan mengalami gejala psikosomatik seperti jantung berdebar, napas pendek, keluar keringat dingin," ujar Spesialis Kedokteran Jiwa dr. Andri, SpKJ, FACLP via Suara.com.

Menurut Andri, gejala psikosomatik secara umum berkaitan dengan daya tahan tubuh. Ia menjelaskan bahwa semakin baik daya tahan tubuh seseorang terhadap stres, maka akan jauh lebih baik.

"Itu juga terkait dengan apakah stres itu baru atau sudah pernah dialami sebelumnya. Kalau stres baru biasanya tidak akan mudah (adaptasi). Tapi kalau sudah lama biasanya akan lebih mudah," ucap Andri.

Lalu bagaimana melakukan pencegahan terhadap gangguan psikosomatik? Pertama, rajin berolahraga. Sebab selain dapat meningkatkan daya tahan tubuh, olahraga juga dapat menjaga kesehatan jiwa. Kemudian, selalu berpikir positif, istirahat yang cukup dengan tidur 6-8 jam di malam hari, mengkonsumsi makanan yang sehat, mengelola stress dengan baik, lalu berbagi dengan orang lain saat mempunyai masalah.

Berkaitan dengan efek psikosomatik yang muncul setelah membaca berita atau informasi seputar Covid-19, diharapkan masyarakat menjadi lebih bisa memilah dan memilih berita yang akan dikonsumsi. Agar tidak menimbulkan tekanan emosional dan kecemasan yang berlebihan, biasakan diri untuk selalu berpikir positif.

Melakukan gaya hidup sehat, mengkonsumsi makanan yang baik untuk kesehatan, rajin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, serta menerapkan physical distancing atau menjaga jarak fisik (sosial), dipercaya mampu mengurangi potensi penyebaran Covid-19.

Tinggalkan Komentar