Resolusi Jihad dan Tantangan Santri Di Era Milenial

 

Santri secara umum adalah sebutan bagi seseorang yang mengikuti pendidikan agama Islam di pesantren, biasanya menetap di tempat tersebut hingga pendidikannya selesai. Menurut bahasa, istilah santri berasal dari bahasa Sanskerta, "shastri" yang memiliki akar kata yang sama dengan kata sastra yang berarti kitab suci, agama dan pengetahuan. Ada pula yang mengatakan berasal dari kata cantrik yang berarti para pembantu begawan atau resi.

Seorang cantrik diberi upah berupa ilmu pengetahuan oleh begawan atau resi tersebut.Tidak jauh beda dengan seorang santri yang mengabdi di pesantren, sebagai konsekuensinya ketua pondok pesantren memberikan tunjangan kepada santri tersebut.(Wikipwdia)

Dari definisi di atas maka secara sederhana Santri merupakan sebutan khas bagi pelajar yang menuntut ilmu di pondok pesantren. Secara histori Sebutan santri sudah sejak lama digunakan bahkan sebelum era kemerdekaan. Lebih jauh lagi istilah santri sudah digunakan di wilayah Jawa sejak masa para Wali Songo. Sunan Ampel adalah ulama pelopor mendirikan pondok pesantren di tanah Jawa, dan mulai menggunakan kata santri untuk para Muridnya (Pelajar).

Dalam tradisi Islam menuntut ilmu bukan hal yang remeh melainkan menjadi kewajiban bahkan dinilai sebagai kegiatan Jihad, dan perilaku Santri yang mondok bukan hanya di mulai di jawa bahkan dimasa Nabi Muhammad para sahabat yang datang untuk belajar di Madinah. Berasal seluruh jazirah Arab dan menjadikan Mesjid Nabawi sebagai tempat pondokan bagi mereka disematkan sebagai ahli sufah, dan semangat ini menjalar hingga ketanah Jawa dan akhirnya populer menjadi Santri bagi pelajar Pondok pesantren.

 

Tujuan inti dari sistem pendidikan Sufah atau pondokan agar setiap ilmu yang di dapat secara konseptual langsung di aplikasikan dengan bimbingan Guru sehingga pelajaran di terima secara konpernhensip, maka tidak mengherankan jika kemudian para Ulama berhasil merubah masyarakat yang jahiliah menjadi masyarakat yang Islami.

Hasyim Asy'ari sebagai tokoh Ulama pendiri NU menjadikan santri sebagai basis perubahan bahkan menjadikan santri  sebagai tulang punggung gerakan NU baik secara kultur maupaun secara gerakan politik sebagai gerakan rielnya KH Hasyim Asy’ari  mengeluarkan resolusi jihad dan Beliau mengeluarkan fatwa wajib Hukumnya berjihad melawan penjajah belanda. Beliau mengeluarkan resolusi jihad ditangal 22 Oktober 1945 yang kemudian dijadikan sebagai  hari santri Nasional.

 Dengan ditetapkan 22 Oktober sebagai Hari Santri sudah selayaknya diapresiasi setinggi-tingginya untuk merevitalisasi semanggat resolusi jihad, jika KH. Hasyim Asy'ari mengeluarkan resolusi jihad untuk mengusir penjajah maka gerakan santri hari ini berubah menjadi gerakan mengisi kemerdekaan. Mengisi kemerdekaan bagi santri adalah dengan membangun basis intelektual yang mampu mengisi seluruh kebutuhan pembangunan secara intelektual.

 Di Era Milenial Ketrampilan di beberapa bidang kehidupan masyarakat diantaranya, pertama ketrampilan mengisi pos dunia kerja dengan skil yang mumpuni sesuai dengan bidang keahlian yang dikuasai, kedua ikut berpartisipasi aktif membantu pemerintah dalam upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat, ketiga mengabdi untuk negara dalam menjaga kerukanan hidup bermasyarakat antar warga negara sebagai warisan budaya pendiri bangsa, keempat mentaati peraturan yang telah ditetapkan pemerintah dan merawat keutuhan negara kesatuan republik indonesia (NKRI).

 Dalam perkembangannya banyak tokoh Nasional disemua lini kehidupan yang terlahir dari pondok-pondok pesantren yang tersiar di seluruh penjuru Nusantara. Sudah tidak bisa dipungkiri banyak tokoh pahlawan yang pernah mengenyam pendidikan di pondok pesantren. Mampu mewarnai sejarah Negeri ini dari masa kemasa dan peran mereka tidak bisa dianggap kecil maka lahirlah ide pensejajaran lembaga pendidikan pesantren dan lembaga formal sehingga lulusan pesantren memiliki peluang yang sama dengan lulusan lembaga pendidikan formal lainnnya.

Pensejajaran pesantren dengan lembaga pendidikan formal sebagai kado istimewa dari pemerintah dapat menjadi penyemangat. Dengan harapan para santri semakin banyak berbuat untuk mengisi sendi-sendi pembangunan negeri. Sehigga santri tetap memberikan warna dalam sejarah negeri ini dengan tinta emas. Santri harus membuktikan dirinya sebagai pelopor bagi pembangunan negeri bukan sekedar dicitrakan sebagai pembaca doa melainkan mampu menjadi leader disemua sisi sektor kehidupan baik sosial, ekonomi maupun politik, Jayalah Santriku, Jayalah Negeriku Jayalah Indonesia, “Santri untuk negeri, bersama santri damailah negeri.”

(Penulis adalah Aktivis PMII UINSU)

Tinggalkan Komentar

loading...