SENANDUNG CINTA HAMZAH FANSURI

 

Nezar Silabuhan 

Kekasihmu zhâhir terlalu terang
Pada kedua alam nyata terbentang
Pada ahlul-ma‘rifah terlalu menang
Wâ shil nya dâ‘im tiada berselang

Hapuskan akal dan rasamu
Lenyapkan badan dan nyawamu
Pejamkan hendak kedua matamu
di sana kau lihat permai rupamu

Rupamu itu yogya kau serang
Supaya sampai ke negeri yang henang
Seperti Ali tatkala berperang
Melepaskan Duldul tiada berkekang

 

Dalam bidang sastra, Hamzah Fansuri mempelopori pula penulisan puisi-puisi filosofis dan mistis bercorak Islam. Kedalaman kandungan puisi-puisinya sukar ditandingi oleh penyair lain yang sezaman bahkan sesudahnya. Dalam bidang kesusastraan pula, ia orang pertama yang memperkenalkan syair dan puisi empat baris dengan skema sajak akhir a a a a seperti telah disinggung sebelumnya. Dilihat dari strukturnya, syair yang diperkenalkan oleh Hamzah Fansuri seolah-olah merupakan perpaduan antara sajak Persia dengan pantun Melayu.

Hamzah Fansuri juga telah berhasil meletakkan dasar-dasar puitika dan estetika Melayu. Pengaruh itu masih dapat diamati jauh setelah ia mati bahkan hingga sekarang, seperti dalam karya penyair Pujangga Baru, sastrawan angkatan 70-an dan sebagainya, berada dalam satu jalur estetik dengan Hamzah Fansuri.

Bidang kebahasaan, Hamzah Fansuri telah memberikan beberapa sumbangan. Pertama, sebagai penulis pertama kitab keilmuan dalam bahasa Melayu, ia berhasil mengangkat bahasa Melayu menjadi bahasa intelektual dan ekspresi keilmuan yang hebat. Dengan demikian, kedudukan bahasa Melayu di bidang penyebaran ilmu dan persuratan menjadi sangat penting dan mengungguli bahasa-bahasa Nusantara lainnya pada waktu itu. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila pada sekitar abad ke-17, bahasa Melayu menjadi bahasa pengantar pada berbagai lembaga pendidikan Islam, bahkan digunakan pula oleh Pemerintah Hindia Belanda sebagai bahasa administrasi dan bahasa pengantar di sekolah-sekolah pemerintah. Itulah yang telah memberikan peluang besar terhadap bahasa Melayu bukan saja untuk berkembang maju tetapi juga untuk dipilih dan ditetapkan menjadi bahasa persatuan dan kebangsaan Indonesia.

Mahabbahtullah sendiri bukanlah pemikiran baru dalam khazanah pemikiran Tasawuf Islam. Pada awal perkembangan tasawuf saja sudah lahir Rabi‘ah al-‘Adawiyah yang sya’ir cintanya memberikan nuansa baru dalam pemikiran tasawuf masa itu yang cenderung pada kezahidan dan penempatan Tuhan sebagai objek yang ditakuti. Rabi‘ah berhasil membangun fondasi pemikiran Cinta kepada Tuhan yang mampu memberikan paradigma lain dalam melihat Tuhan. Ia menemptakan Tuhan sebagai Kekasih yang ia dan Tuhan saling merindukan. Perkembangan ini mendapat sistematisasi pada masa Ibnu ‘Arabi. Dengan filsafat mistisnya tentang wujud ia memperjelas hubungan yang didasari cinta antara Tuhan dan hamba. Di mana wujud cinta Tuhan kepada hamba termanifestasi pada penciptaan Adam (dan ketrunannya) dan wujud cinta hamba kepada-Nya adalah kesadaran akan keberadaaanya yang semu. Pada saat yang hampir bersamaan pula, di Konya,Turki, Jalaluddin Rumi meliris puluhan ribu sya’ir cinta dalam Matsnawi. Sya’ir-sya’ir ini mencoba mendeskripsikan hubungan cinta manusia dan Tuhan yang abadi.

Di Nusantara, seriring dengan berkembangnya agama Islam, maka mazhab tasawuf yang dilandasi cinta ini juga berkembang. Hamzah Fansuri merupakan salah satu sufi yang memiliki keterpengaruhan dengan filsafat mistis yang berlandskan cinta sebagaimana yang pernah berkembang dalam tasawuf Islam klasik. Dalam berbagai sya’irnya ia mencoba menjelaskan hubungan manusia dengan Tuhan yang dilandsai cinta. Cintalah yang akan membawa kesempurnaan hidup manusia dan membawanya pada kebahagiaan hakiki yakni perjumpaan dengan Allah.

Sebagaimana saya kemukakan dalam pembahasan di atas, mahabbah bukanlah wacana yang asing dalam tasawuf Islam. Sejak awal kemunculan tasawuf sebagai suatu mazhab pemikiran, maka wacana tersebut telah tumbuh dan berkembang. Abu Nasr al-Sarraj al-Tusi mengatakan bahwa mahabbah memiliki tiga tingkatan: pertama, cinta orang biasa, yakni selalu mengingat Allah dengan berzikir, suka menyebut nama Allah SWT dan memperoleh kesenangan dalam dialog dengan-Nya serta senantiasa memuji-Nya. Kedua, cinta orang siddiq (jujur, benar), yaitu orang yang mengenal Allah SWT seperti kebesaran-Nya, kekuasaan-Nya dan ilmu-Nya.

Cinta ini dapat menghilangkan tabir yang memisahkan diri seseorang dari Allah SWT sehingga ia dapat melihat yang ada pada Allah SWT. Ia mengadakan “dialog” dengan Allah dan memperoleh kesenangan dari dialog tersebut. Cinta tingkat kedua ini membuat orang sanggup menghilangkan kehendak dan sifatnya sendiri, sementara hatinya penuh dengan perasaan cinta dan selalu rindu kepada Allah. Ketiga, cinta orang arif, yaitu cinta orang yang tahu betul akan Allah SWT, yang dilihat dan dirasa bukan lagi cinta tapi diri yang dicintai. Akhirnya sifat yang dicintai masuk ke dalam diri yang mencintai. Cinta pada tingkatan ke tiga inilah yang menyebabkan seorang hamba dapat berdialog dan menyatu dengan (kehendak) Allah.

Dari paparan di atas terlihat bahwa Hamzah menjelaskan mahabbah dalam pandangan Hamzah adalah perjalanan dan pencapaian. Perjalanan dilakukan dengan suluk yakni upaya-upaya penyucian diri dari segala sesuatu yang duniawi menuju hakikat Ilahi. Penyucian diri dilakukan terus menerus hingga ia menggapai cinta hakiki yakni Tuhan. Dalam tataran tertinggi penggapaiannya maka ia akan “menyatu” dengan Tuhan dan menjadi menifes Tuhan dalam alam.

Cinta adalah hakikatt Tuhan yang Wujud dalam alam. Ia menampakkan dirinya berupa surah dalam diri manusia. Setiap manusia yang menempah jalan menuju Tuhan mesti membersihkan diri dari sifat keduniawian. Sifat ketuhanan akan masuk dalam diri yang telah bebas dari sifat keduniawiannya. Seseorang yang telah mampu menampakkan sifat-sifat ketuhanan dalam irinya ia adalah insan kam

*Penulis adalah pemerhati budaya Aceh Singkil

 

 

Tinggalkan Komentar

loading...