“Urusan Agama,Kita (PDI Perjuangan) Sudah Tuntas…”

Oleh : Samuliya Surya Indra (Wakil Ketua Bidang Ideologi dan Kaderisasi DPD PDI Perjuangan Sumut).

Penggalan Cerita tentang Musholla At Taufiq, KANTOR DPD PDI Perjuangan Sumut

Bangunan ini berdiri semenjak 2017. Terlihat megah dengan pilar-pilar yang menjulang menopang atap teras Gedung berlantai tiga ini, Gedung Kantor Sekretariat DPD PDI Perjuangan Sumut. Kalau sedang berada di Medan, hampir setiap hari aku mampir ke Gedung bercat putih ini.

Bagian paling kusuka dari Kantor DPD ini (begitu aku biasanya menyebutnya) adalah bagian sisi kanan gedung. Di mana ada dinding pagar setinggi 3 meter di sisi sebelah kanan memanjang sampai ke belakang surau (bangunan musholla) At Taufiq yang dipenuhi ara merambat (Ficus fumila);  dengan padanan asoka (Saraca asoca) yang terpangkas rapi di bagian bawah dinding.

Dari tempat aku biasa nongkrong di DPD, di meja kaca bundar dekat dapur umum, memandang hijauan daun ara dengan latar depan bangunan mushola yang dipagari bunga soka (Saraca asoca); suasana sejuk dan syahdu langsung terasa. Apalagi kalau tanaman habis disiram oleh Firza atau Roni (tim sekretariat DPD); warna hijau dengan titik-titik air di daun dipadankan dengan warna merah bunga asoka, terasa begitu segar dan menyejukkan mata jika dipandang.

Aku bukan muslim yang taat, jarang sholat, sering juga dikafirkan dan disebut atheis oleh kenalan muslim-ku. Namun siang tadi kusempatkan sholat di situ.

Ada pembicaraan pribadi dengan ibuku (yang tak perlu kuceritakan di sini) membuatku tergerak untuk sholat pagi menjelang siang ini, meski sekedar 2 rakaat sholat duha.

Seusai sholat, duduk beralas sajadah, memandang berkeliling surau berukukuran sekitar 5 X 5 meterini, mencoba meresapi suasana syahdu religi di dalam surau. Sajadah dan karpet mulai terlihat pudar warnanya, pertanda sering disentuh oleh dahi dan kaki rekan-rekan yang selalu sholat dan terkadang melepas Lelah di situ, menghindar dari panasnya cuaca Kota Medan.

Di pojok surau ada rak kecil dengan tumpukan Qur’an, buku kumpulan khutbah serta beberapa cetakan buku-buku agama. Kantor yang masih sunyi membuat keheningan dan kesyahduan suasana dalam musholla. Memandang ke arah luar dari Surau At Taufiq, (aku lebih suka menyebutnya surau), melalui  dinding kaca sekelilingnya ini memberi nuansa yang terasa lebih syahdu lagi. Cukup sejuk udara, angin bertiup semilir melalui jendela yang terbuka,

Masih merenung, sedikit terbaring, kulihat di luar ada Bang Beny Tobing datang dan duduk di meja dekat depur membaca koran di situ. Kepingin merokok, aku keluar dari musholla  menyapa Bang Beny dan kembali duduk di tempat favoritku, menyeruput kopi  yang kutinggal sholat tadi, sembari mulai menhidupkan rokok, menyesapi asap keretek yang perlahan melewati tenggorokan.

Tak lama kemudian datanglah  Sarma (Sarma Hutajulu, Wk Ketua Bidang Buruh) disusul Mas Tarto disusul Mas Tarto (Dr. Sutarto, Msi., Sekretaris DPD).

Ketika Mas Tarto duduk bergabung, aku bertanya membuka pembicaraan menanyakan siapa yang empunya ide mendirikan musholla (surau) di Kantor DPD ini. Aku memang tidak tahu -menahu tentang seluk-beluk pembangunan Kantor DPD ini. Kala proses pembangunan aku masih banyak

“Begini itu ceritanya…”, kata Mas Tarto,

“Ide ini dimulai ketika masa tahap awal pembangunan kantor DPD di Tahun 2015. Waktu itu kami sedang meninjau progress pembangunan gedung Kantor DPD.   Sewaktuitu Bang JPS… (Ketua DPD, Japorman Saragih) di depan Saya, Bang Alam (Alamsyah Hamdani, Waket Bidang Hukum), Ustadz Syahrul Siregar dan Bang Jum (Jumiran Abdi, Wakli Ketua Bidang Kehormatan peripde DPD lalu) bilang bahwa di Kantor DPD yang baru ini harus dibuatkan Musholla. Semula kami yang lain berpikir cukup dengan memilih satu ruangan di antara ruang Gedung yang sedang dibangun untuk Musholla.”

Namun Bang JPS bilang,”Tidak…, harus dibikin bangunan masjid yang terpisah, supaya kawan-kawan muslim yang mau sholat tidak terganggu dan bisa khusyuk menjalankan sholatnya,”begitu Kata Bang JPS, tutur Mas Tarto.

Akhirnya jadilah dipilih lokasi untuk pendirian Musholla di pojok itu.

“Untuk Kubah-nya saja Bang JPS sendiri yang khusus mencari dan memesan sendiri ke Langkat sana. Sehingga akhirnya jadilahbangunan Musholla ini,” sambung Mas Tarto lagi sambil menunjuk Kubah Merah kecoklatan dengan tulisan Lafal “ALLAH” di puncaknya.

“Kita beri nama At Taufiq...dengan dua maksud..,, secara harfiah artinya …kesesuaian antar keinginan manusia dengan Kehendak Allah…, dan yang kedua ..ini juga dimaksudkan sebagai penghargaan dan pengingat ke pada Almarhum Bang Taufik Kiemas” Kata Mas Tarto yang Doktor Komunikasi Islam ini menjelaskan.

“Jadi begitulah, …Bang JPS yang bukan Muslim justru lebih peduli dan perhatian dengan kebutuhan kawan-kawan yang muslim.  Kita juga boleh banggalah… di antara kantor partai-partai nasionalis Cuma PDI Perjuangan yang di Kantor DPD-nya ada bangunan musholla permanen semacam ini.Tapi memang kita juga yang dikafir-kafirkan…, padahal kalau urusan agama, SARA, kita semua (PDI Perjuangan), sudah tuntas,” pungkasnya.

Aku tersenyum dikulum teringat canda kami dengan Bung Aswan di hari sebelumnya saat menerima audiensi sahabat-sahabat ISNU (Ikatan Sarjana Nahdatul Ulama) yang akan melaksanakan Madrasah Kader. ”Jumlah Umat muslim di Indonesia sudah bukan 80-an persen lagi tapi tinggal 3% karena sudah banyak sekali kita yang Aswaja (Ahlus Sunnah Wal Jamaah ) ini yang dikafir-kan oleh pihak sana.”

Surau At Taufiq ini diresmikan langsung oleh Ibu Ketua Umum, pada tanggal 18 Juli 2017 seperti tertera di prasasti peresmian Musholla tanggal… dan semanjek hari itu sudah dipakai langsung untuk Sholat oleh kader dan Anggota PDI Perjuangan serta siapa saja yang datang ke Kantor DPD (*)

 

 

Tinggalkan Komentar