Heni Nekat Jadi TKI ke Hong Kong, Ditipu Lalu Sukses Kuliah

Niat hati ingin meneruskan kuliah selulus SMA tapi tak ada biaya, Heni Sri Sundani (28) akhirnya nekat mendaftar menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Hong Kong. Sempat ditipu agen TKI. Duh!

Tawaran menjadi TKI di Hong Kong itu datang dari tetangga Heni di kampung, Dusun Rancatapen, Ciamis, Jawa Barat. Awalnya, niat Heni untuk bekerja sebagai TKI ke Hong Kong tak direstui oleh nenek dan ibundanya.

"Tapi akhirnya dibolehin. aku kemudian masuk balai latihan kerja sampai 4 bulan. Terus terbang ke Hongkong. Ini mimpi, pengen naik pesawat dari kecil". Ujarnya, Minggu (28/2/2016).

Perjalanan Heni naik pesawat ke Hong Kong itu mengantarkan kiprahnya menjadi TKI pada Oktober 2005. Di Hong Kong, Heni bekerja sebagai asisten rumah tangga dan pengurus anak alias baby sitter.

"Urus 2 anak di keluarga di daerah Tin Shui Wai, Hong Kong. Sebulan dapat gaji Rp 1,5 juta. Enggak pernah ada niat jadi TKI. Tapi kan ini peluang," jelas Heni.

Tahun pertama menjadi TKI, Heni mengaku ditipu oleh agen Perusahaan Jasa TKI (PJTKI) yang mengirimkannya. Gaji yang diterima Heni ternyata sudah dipotong separuh oleh agen PJTKI itu.

"Aku ditipu sama agen. Uang bayaran aku ternyata dipotong setengahnya. Kami dari dusun, minim pengetahuan, minim informasi. Aku baca-baca, berapa sih bayaran seorang majikan. Akhirnya terungkap. Majikan aku bayar penuh, tapi dipotong tanpa izin sama agen yang mempekerjakan aku," jelas Heni.

Di majikan pertama ini, Heni memanfaatkan hari liburnya untuk berkumpul bersama TKI. Dia juga membaca koran setempat, di mana dia mendapatkan informasi kuliah jarak jauh diploma jurusan teknik informatika yang kelasnya digelar tiap akhir pekan, Sabtu-Minggu. Heni tak menyia-nyiakan informasi ini, lantas mendaftar kuliah diploma jarak jauh yang hanya bisa dihadiri saat dia libur.

Meski gajinya dipotong oleh agen PJTKI, Heni masih bisa menyisihkannya untuk membiayai kuliah. Namun Akung, majikan pertamanya ini tidak begitu mendukung niatnya melanjutkan pendidikan.

"Aku pernah ketahuan membaca koran di dapur namun malah dimarah-marahi," tuturnya.

Meski demikian banyak hambatannya, Heni berhasil lulus diploma bidang komputer informatika dan diploma profesi dalam bidang e-business komputer informatika di Hong Kong.

Dua tahun setelah di majikan pertama, Heni pindah majikan. Kali ini, dia beruntung. Selain mendapatkan gaji yang utuh Rp 4,5 juta per bulan, tak lagi dipotong agen PJTKI, dia juga mendapat majikan yang mendukungnya untuk meneruskan kuliah hingga Strata 1.

"Makanya aku beruntung di majikan kedua, kondisinya orang miskin jadi orang kaya yang kini kerja di perusahaan, jadi tahu rasanya jadi orang miskin. aku kuliah meneruskan S1 juga atas izin majikan," kenang Heni.

Sembari masih bekerja sebagai asisten rumah tangga, Heni pun mulai berkuliah S1 bidang manajemen kewirausahaan di Saint Mary's University, Hong Kong. Meski masih berkuliah di akhir pekan, majikannya mendukungnya dengan memberikan Heni izin untuk ke kampus atau ke perpustakaan bila di hari-hari kerja Heni sudah menyelesaikan pekerjaannya. Maka, sembari bekerja menjadi asisten rumah tangga, Heni pun bisa menyelesaikan kuliah S1 selama 3 tahun.

"6 tahun di Hong Kong, pulang ke dusun di Ciamis udah jadi sarjana. Lulus dengan dengan nilai terbaik. Cumlaude. Pulang ke Indonesia tahun 2011," tutur Heni.

Ternyata, Heni tak cuma bekerja domestik sembari berkuliah, dia juga mendirikan perpustakaan untuk TKI dan mulai menjadi penulis. Bagaimana kiprahnya menjadi penulis? Nantikan dalam artikel berikutnya

Tinggalkan Komentar