Tentang Tari Kuno Cing Po Ling, Ada Sejak 3 Abad Lalu di Purworejo

Barangkali tak banyak yang mengenal seni tari tradisional Cing Po Ling di Purworejo, Jawa Tengah ini. Tarian kuno ini mengisahkan tentang penyamaran beberapa pengawal demang dalam menjaga keamanan itu, hingga kini masih terus dilestarikan.

Nama Cing Po Ling sekilas seperti nama yang berasal dari negara Cina. Namun nama tersebut diambil dari inisial nama tiga orang pengawal setia Demang Kesawen yakni Krincing, Dipomenggolo dan Keling. Tarian tradisional tersebut dipercaya sudah ada sejak abad XVIII.

Simun (80) warga Dukuh Kalitepus, Desa Kesawen, Kecamatan Pituruh yang merupakan ketua kelompok seni Cing Po Ling Tunggul Wulung menceritakan bahwa seni tradisional tersebut mengisahkan tentang sepenggal kisah yang dilakoni seorang Demang Kesawen beserta para pengawalnya ratusan tahun silam. Kala itu Demang Kesawen berangkat untuk mengikuti pisowanan atau pertemuan di Keraton Yogyakarta bersama tiga orang pengawalnya, yaitu Krincing, Dipomenggolo dan Keling.

Untuk mengisi waktu selama menunggu dimulainya acara pisowanan, Demang Kesawen bersama ketiga pengawalnya tersebut melakukan latihan bela diri di alun-alun Keraton. Namun, gerak gerik mereka dimata-matai oleh prajurit sandi yang kemudian melaporkan kepada raja karena dianggap membahayakan keamanan.

"Waktu itu raja marah lalu mengingatkan Demang Kesawen dan anak buahnya agar tidak mengulangi hal serupa lagi pada pisowanan berikutnya. Krincing, Dipomenggolo dan Keling juga dilarang mengawal Demang Kesawen. Jika sampai melanggar maka raja mengancam akan memecat Demang Kesawen," kata Simun, Kamis (4/10/2018).
Simun melanjutkan, meski dilarang, tapi peringatan disertai ancaman tersebut tidak digubris oleh Ki Demang dan pengawalnya. Sebagai pengawal setia, mereka tidak bisa membiarkan Demang pergi sendirian, mengingat kondisi keamanan waktu itu cukup rawan. Kemudian mereka pun bermusyawarah serta meminta pendapat dari orang kepercayaan Demang yaitu Jagabaya dan Komprang untuk mencari cara.

"Akhirnya mereka sepakat dengan melakukan penyamaran saat mengawal yaitu dengan iring-iringan tarian. Mereka mengenakan pakaian yang dapat menutupi ciri fisik masing-masing. Krincing memakai beskap untuk menutupi bagian pusar yang bodhong, sementara Dipomenggolo menggunakan topi untuk menutupi benjolan di dahinya dan Keling menutupi luka di betisnya dengan memakai celana panjang, ditambah dengan pengawal lain yang ikut menari," imbuhnya.
Tarian diiringi alat musik berupa terompet, bende, kecer dan dilengkapi dengan pengawal pembawa bendera. Peralatan yang dibawa sendiri berfungsi sebagai senjata.

"Ya, senjata yang disamarkan. Kecer yang seperti cakram bisa digunakan untuk menyerang musuh dengan cara dilempar. Terompet yang berfungsi sebagai tulup bisa dipakai untuk melontarkan sumpit yang mematikan dan tongkat bendera yang dibawa merupakan sebuah tombak sakti yang bernama Tunggul Wulung," lanjut Simun.

Penyamaran mereka pun ternyata berhasil. Sang raja tidak curiga dan tak dapat mengenali keberadaan Krincing, Dipomenggolo dan Keling di tengah-tengah rombongan. Bahkan para bangsawan dan pembesar keraton justru kemudian banyak yang tertarik menonton dan memuji atraksi mereka hingga akhirnya raja memerintahkan untuk melestarikan kesenian tersebut.
Sejak saat itulah seni Cing Po Ling berkembang turun-temurun khususnya di Desa Kesawen. Pada perkembangannya, kini tarian tersebut dimainkan oleh 9 hingga 11 orang berpakaian layaknya perajurit keraton yang berperan sebagai pemayung, pemencak, dan pengiring dengan tambahan alat lain seperti ketipung, drum dan pedang.

Berbagai gerakan disajikan secara dinamis dalam tarian yang berdurasi sekitar 30 menit itu seperti gerak babak maju baris, babak mundur baris, hormat, senggolan bahu, cakrak, gagahan, gerakan ujung, emprak, titenan, gambul, gudangan, kitrangan, jajagan, adon-adon, gebragan, genjotan, teteran serta limpen.
"Ya itu macam-macam gerakannya. Tapi Cing Po Ling itu bukan seni panggung karena dimainkan di lapangan terbuka. Sekarang biasanya dipentaskan kalau ada hajatan, acara agustusan, khataman dan untuk menyambut tamu kehormatan," Simun menambahkan.

Salah seorang penari Eko priyanto (45) mengaku sudah lebih dari 15 tahun menari Cing Po Ling. Ia mengaku bangga hingga saat ini bisa tetap melestarikan kebudayaan kuno tersebut.

"Sudah 15 tahun lebih lah ikut Cing Po Ling. Kadang pentas di luar kota juga seperti Semarang, Kebumen dan lain-lain. Ya bangga bisa nguri-uri budaya tinggalan nenek moyang," tuturnya.

Tinggalkan Komentar